puisi remaja baru
Rembulan Menganga
Oleh: Laily Anisah
Terpaan syahdu bermuara rindu
Dalam pejaman mata
Kau tak akan pernah tahu apa di sekelilingmu
Semua sama, Gulita
Kaupun sama, tak kan tahu siapakah ia
Terpaan syahdu bermuara rindu
Ku mengaduh sampai gaduh
ku mengeluh riuh
Dari secercah cahaya rindu yang menggebu
Coba ku gapai-gapai bayang wajah itu
Coba ku rangkai-rangkai potongan memori itu
Ku cari terus ku cari
Ku susuri terus lajunya waktu yang mendentum jari
Menari- nari dalam ilusi pun ku lakoni
Demi harta karun yang membuat ku merasa berarti
Gambaran abstrak dari bongkahan cerita lama
Akhirnya mampu menggumpal membongkah
Menjadi wujud dalam bingkai imajinasi mungilku
Menjadi pelita ditengah surutnya gairah merajut asa
Memberi pesona meski langit gemetar karena dinginya hujan
Gambaran abstrak dari bongkahan cerita lama
Tetap menjadi kidung mesra sanubari yang mengiba
Wajahmu tak tertelan hingar bingarnya dunia
pun takkan surut cinta ini mengalir meski kini kau terabadikan pusara
Oleh: Laily Anisah
Terpaan syahdu bermuara rindu
Dalam pejaman mata
Kau tak akan pernah tahu apa di sekelilingmu
Semua sama, Gulita
Kaupun sama, tak kan tahu siapakah ia
Terpaan syahdu bermuara rindu
Ku mengaduh sampai gaduh
ku mengeluh riuh
Dari secercah cahaya rindu yang menggebu
Coba ku gapai-gapai bayang wajah itu
Coba ku rangkai-rangkai potongan memori itu
Ku cari terus ku cari
Ku susuri terus lajunya waktu yang mendentum jari
Menari- nari dalam ilusi pun ku lakoni
Demi harta karun yang membuat ku merasa berarti
Gambaran abstrak dari bongkahan cerita lama
Akhirnya mampu menggumpal membongkah
Menjadi wujud dalam bingkai imajinasi mungilku
Menjadi pelita ditengah surutnya gairah merajut asa
Memberi pesona meski langit gemetar karena dinginya hujan
Gambaran abstrak dari bongkahan cerita lama
Tetap menjadi kidung mesra sanubari yang mengiba
Wajahmu tak tertelan hingar bingarnya dunia
pun takkan surut cinta ini mengalir meski kini kau terabadikan pusara
Posting Komentar